Kamis, 31 Maret 2011

Kesaksian anak petinggi Hamas Palestina

Anak Hamas, Mosab Hassan, Meninggalkan Islam

HamasSaya adalah putera dari seorang pemimpin yang paling berpengaruh dalam organisasi militan Hamas di Tepi Barat Palestina dan tumbuh di dalam sebuah keluarga Islam yang taat. Ayah saya adalah orang jujur dan bersahaja, sayang kepada keluarga dan membesarkan kami dengan prinsip-prinsip pengampunan. Oleh karena itu saya menganggap bahwa semua orang Islam seperti itu.

Kekejaman Pengikut Hamas

Ketika saya berusia 18 tahun, saya ditahan di sebuah penjara Israel. Di tempat itu Hamas memiliki kontrol atas anggota-anggota mereka dan saya melihat Hamas menyiksa para tahanan dengan sangat kejam. Walaupun Mereka tidak menyiksa saya, tapi hal itu telah membuat saya shock, melihat mereka menyiksa sesama anggota mereka: menusuk kuku-kuku dengan jarum, membakar tubuh-tubuh mereka, dan juga banyak yang dibunuh. Hal ini dipicu karena rasa curiga mereka yang menganggap korban-korban mereka tersebut telah bekerjasama dengan pihak Israel yang melawan Hamas.

Saya Mulai Membaca Injil

Itulah awal dimana mata saya mulai terbuka lebar bahwa orang Muslim tidak sebaik yang saya pikirkan selama ini. Tidak ada kasih dan pengampunan. Akhirnya saya mulai mendalami Injil, ayat demi ayat, dan memastikan bahwa ini buku Tuhan, pernyataan Tuhan, sehingga saya mulai memandang Injil dengan cara berbeda walaupun tidak mudah bagi saya untuk mengatakan bahwa Islam adalah salah.

Kewajiban Memberi Kesaksian

Saya sangat bersyukur mempunyai keluarga yang terdidik, walaupun saya telah meninggalkan agama ayah saya, namun mereka tidak membenci saya walaupun mereka berkali-kali meminta pada saya untuk menyembunyikan agama saya yang baru ini dan tidak mengumumkannya di media.

Tapi saya diwajibkan Tuhan untuk mengumumkan namaNya dan memujaNya keseluruh dunia karena penghargaan bagi saya adalah bahwa IA akan melakukan hal yang sama bagi saya. Jadi, saya lakukan ini sebagai sebuah kewajiban. Saya harus menguatkan diri. Ini tantangan yang sangat besar dan keputusan yang sangat besar dalam hidup saya. “Karena bagi saya, tujuan hidup saya hanyalah Kristus! Dan mati berarti untung” (Injil, Surat Filipi 1:21).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar